“ Tuhan tak lagi menjadi pribadi yang penting bagi umat manusia. Semakin jarang mereka mengingat Dia dalam kehidupanya atau dalam mengambil keputusan …. Tuhan telah diganti dengan nilai-nilai lain: penghasilan dan produktivitas. Ia dulu mungkin dianggap sebagai sumber motivasi seluruh umat manusia, tetapi dewasa ini Dia sudah disingkirkan ke tempat pembuangan rahasia dalam sejarah …. Tuhan telah lenyap dari kesadaran umat manusia. “ – The Sources Of Modern Atheism
Mungkin kalian sendiri menyadari bahwa Tuhan merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan orang-orang diseluruh muka bumi ini. Karena agar seseorang dapat diterima dikalangan masyarakat, seseorang harus memperlihatkan iman mereka terhadap Tuhan. Walaupun tak semua orang menjalankan praktek agama yang ia percaya dengan sungguh-sungguh. Keraguan atau ketidakpastian apapun mereka simpan secara pribadi dan hati-hati.
Akan tetapi, keadaan telah berbalik. Memiliki keyakinan yang kuat terhadap agama dianggap oleh banyak orang sebagai berpikiran sempit, dogmatis, bahkan fanatik. Dibanyak negara, kita dapat melihat sikap acuh tak acuh yang mencolok, atau kurangnya minat terhadap Tuhan dan agama. Kebanyakan orang tidak lagi mencari Tuhan karena mereka tidak percaya atau tidak yakin akan hal ini. Jadi, bagaimana gagasan tentang Tuhan dapat tersingkirkan demikian jauh dari kehidupan orang-orang? Kekuatan apa yang menyebabkan perubahan ini? Dan, haruskah pencarian dlianjutkan? – Pencarian Manusia Akan Tuhan
Seperti yang kalian ketahui, kekuatan paling mencolok yang memperlemah kedudukan Tuhan adalah ilmu pengetahuan, filsafat, keduniawian, dan materialisme. Hal-hal tersebut memainkan peranan dalam membangkitkan keraguan dan menunjang skeptisme mengenai Tuhan dan agama.
Pukulan keras bagi agama, tidak lain adalah teori evolusi. Pada tahun 1859 Charles Darwin, seorang peneliiti alam berkebangsaan Inggris (1809-82) menerbitkan bukunya, Origin Of Species, dan mengajukan tantangan langsung terhadap ajaran agama tentang penciptaan oleh Tuhan. Pada saat itu, Susunan Kristen menyerah terhadap tekanan pendapat ilmiah dan bekerja sama dengan apa yang populer daripada membela Alkitab mereka.
Makin jauh ke abad 19, para kritikus agama makin gencar melakukan tentangan. Tidak puas dengan sekedar menunjukkan kegagalan ajaran-ajaran agama, mereka mulai mempertanyakan sesuatu yang sebenarnya adalah dasar agama. Mereka mengajukan pertanyaan seperti: Apa dan siapa gerangan Tuhan itu? Mengapa orang membutuhkan Tuhan? Orang-orang yang saya kagumi seperti Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Sigmund Freud, dan Friedrich Nietzsche mengajukan argumen-argumen mereka dalam istilah filsafat, psikologi, dan sosiologi. Teori-teori seperti ‘ Tuhan tidak lebih daripada sekedar proyeksi dari imajinasi manusia ‘, ‘ Agama adalah candu masyarakat ‘, dan ‘ Tuhan telah mati ‘ semuanya kelihatan baru dan lebih mengasyikkan dibandingkan dengan dogma-dogma atau tradisi-tradisi agama yang sulit untuk dipahami dan membosankan.
Tampaknya pada akhirnya banyak orang telah menemukan jalan atau cara yang efektif untuk mengungkapkan keragu-raguan dan kecurigaan yang terpendam dalam hati mereka. Dengan segera mereka menerima gagasan-gagasan ini sebagai kebenaran bahwa Tuhan tidak ada.
Dan, mengapa banyak orang segera menerima gagasan-gagasan anti agama? Apakah kalian juga termasuk kedalamnya? Atau mungkin kalian masih ragu dengan kepercayaan kalian punya? Semua ini hanya ada didalam hati kalian.
24 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ANZIN9 alus lah......maneh namah ......SETAN.....TAVI...JURIG...
BalasHapus